Selasa, 28 Desember 2010

Badai

Badai mempertemukan kami
Kami jadi saling kenal,
yang sejak awal aku dan kawanku katakan tidak mungkin
Katanya mereka tak ramah
Ribut-ribut angin buat kami buka mata melihat keluar
Ada angin besar di luar dan hujan lebat
Mata temu papas
Mulut temu bincang
Dan cuaca buruk datang lagi
Sekarang, kemana mereka?
Nanti juga datang, bisik angin.

Pemuda, 29 Desember 2010

Bungkam

Diam
Hening
Tak bersuara
Tak ada kata
Hanya ada senandika
Dirimu dan hanya dirimu
Sunyi
Senyap
Rindu desiran dari barat
timur,
selatan,
utara,
tenggara,
Adakah soneta memeluk hati hari ini?

Lebur

Lilin tak selamanya jadi pelita
Bila lebur akan tiada guna
Tapi tak kan sama lilin dengan hati
Lilin terbakar api, hanya sumbu yang habis
Hati terbakar emosi, rasio kena imbas
Seketika
Tak ada demarkasi baik dan buruk: Lebur

Penantian Gadis Kecil

Ditaburinya bibit-bibit jadi serak di ladang merekah pecah
Sumringah seringai senyum diperolehnya dari Bunda
Seuntai wejangan dimanterakan keluar dari mulut
Ananda, sirami benihnya!
Hujan akan sirami dan warnai bunga-bunga itu

Disibaknya tirai jendela bilik
Tiap saat,
Tak mau lengah, perhatikan dawai-dawai angin
Satu, dua kelopak gerak perlahan
Bunda, andai aku bunga di sana
Madu manis kan ku retaskan untuk senyummu
Sampai ku layu
Tak bernyawa

Aral Pagelaran

Mendayu-dayu alam permainkan hidup anak manusia
Entah siapa dalang atau wayang,
meliuk-liuk angkuh di pagelaran,
sedari pagi hingga malam,
lintas warna temani jejak muram
Meski alam masih permainkan

Minggu, 26 Desember 2010

Akankah Ada Cerita Hari Ini?

Denting air berdendang
Hujan turun lagi
Suara rintik halusnya ketuk gendang telinga
Lalu merasuk singgahi palung hati
Bisikkan gelombang menerpa karang
Tak tampak, sebab abrasi kikis pasir pantai

Sudut langit dan laut saling pandang di balik senja
Layar-layar kapal jadi pemandu
Kian jauh berlayar, kian hilang layang terkembang
Pelangi, akankah ada cerita hari ini?

Pemuda, 27 Desember 2010

Siapa Gerangan?

Berdiri di sudut lapang gersang
Jemari-jemari lentik tak beraturan menari-nari
Mata tak putus pandangi aksara yang merayap
Tak lihat kah aku berdiri kaku diam-diam ingin curi hatimu
Sebab hatiku telah lebih dulu kau curi
Agar aku dan kau saling miliki hasil curian
Hatiku hatimu
Hatimu hatiku
Kau dan aku pencuri: hati


Pemuda, 26 Desember 2010

Kamis, 23 Desember 2010

Derai

Jakarta, 21 Desember 2010

Cukup sudah cumbu malam ini
Pagi habis,
Siang padam,
Petang hilang,
Hujan berderai,
Bertutur tentang ruang-ruang renta
Lampu sorot menembak
Pucatkan wajah-wajah di busur lingkaran
Kering tak ada air,
hingga awan-awan datang berderai
Mutiara-mutiara langit bisikkan kata:
Kota kian renta, kian ramai, kian sesak
Ku titipkan keangkuhan si renta, walau usang, lusuh
Tak mau dirampas lagi,
kau tahu: darah pemuda di sini sudah kering
Sudah tak ada semangat juang lagi tiap ruas jari
Kau tahu: Pemuda sini lebih suka euforia
Bukan bambu-bambu bermata lalu diasah
Juga buka peluru yang meletup-letup
Cukup sudah cumbu malam ini
Rembulan sudah lari berselimut awan: cemas
Aku ragu si renta ini dikubur dalam-dalam
Dan bukan di taman pemakaman: Kalibata
Karena tak ada yang anggap sebuah jasa: lenyap

Kamis, 09 Desember 2010

Rindu, Sahabat

Senyum senja hari ini tak kan padam
Sahabat datang berkunjung
Duduk manis di ujung ruang
Cerita lama buka memori
Teringat mimpi lalu
Aku dan kau yang buat
Meski pekan habis dikikis waktu
Rindu tiada terpana tiada rusak


Rinduku, Sahabatku (2)

Senyum senja hari ini tak kan padam
Sahabat ku nanti datang berkunjung
Duduk manis di ujung ruang
Atau tertawa lepas di tanah lapang
Cerita lama akan buka memori
Teringat mimpi lalu
Aku, kau dan kita yang buat
Meski pekan habis dikikis waktu
Rindu tiada terpana tiada rusak
Akankah ada cerita peluruh rindu??
Sungguh mata dan hati kini beradu
Mana yang lebih kuat menahan rindu
Kapankah masa yang dipertemukan itu?
Aku rindu kalian selalu :)

Pemuda, 03 Januari 2011

Senin, 06 Desember 2010

Muharram, Sebuah Pijakan

Bayang-bayang lalu sirna.
Dihapus jejak waktu
Lahir bayang-bayang baru di bawah pelita asa
Muharram, semoga jadi pijakan,
lalu melompat yang tinggi
Raih ridho Illahi

Berhutang pada waktu,
merenung kaku, melipat siku
Tak ada guna sebuah gerutu
Terbayarkah yang telah berlalu,

Selamat Tahun Baru Hijriah 1432 H

Kediaman merindu,
071210

Debu

Mungkin esok aku yang jadi debu
Siapa yang tahu
Remah-remah kerapuhan sudah menjadi bagian dariku
Belum sempat tersuratkan,
aku kirimkan sejuta rasa dalam tiap titik tintamu

 

Perjalanan Senen-Pondok Kopi,

031210

Sirat Penuh Makna

Tak kan hampa dengan sirat penuh makna
Bibir pantai menyapa
Berenang-renang ubur-ubur keemasan dalam air coklat keruh
Bertandanglah senja
Entah bahagia atau luka warnai dinamika
Rekam jejak masa itu dalam antologi sajak sepi
Untuk lebah-lebah yang menuai madu
Delapan Agustus dua ribu sepuluh
Ku habiskan senja bersama pelangi






Metromini 47,
061210

Sulam Benang Emas

Penghujung tahun ini tak akan sepi
Bukan kemasan terbalut indah dengan pita merah
Atau pekik sengau terompet menyambar
Yakin. Sulaman benang emas akan rampung
Keringat dan air mata tak percuma
Seinci gurat senyum terpahat
Hadiah penghujung tahun dari tanganmu
Persembahan untuk bunda mengandung
Ayah yang mangabdi,
Dan adik yang mencinta
Madu, yang manis selalu
Menginjak babak baru, mulai sulaman baru
Pahat gurat senyum yang baru

Kalimalang,
051210

Laskar Negeriku, Maju!

Berlaga di panggung rumput hijau
Merah putih berkibar diiringi laskar-laskar haus angka
Menggulingkan si kulit bundar, lalu diterjang
Tak banyak harap
Hanya ingin lihat perisai lawan memungut bola lesu
Seruan terompet berkoar-koar
Pemain ke dua belas turut andil dan menang
Berlarilah, kepalkan tangan
Tunjuk langit gelap itu,
lalu tantang bahwa kami bisa

Bekasi,
041210

Sabtu, 04 Desember 2010

Pelangi Malam Hari

Pelangi di Malam Hari

Malam itu jarak pandang telah kabur
Bukan kabut pekat yang sedang berulah
Matahari sudah benar-benar padam
Titik-titik air langit basahi pipi
Tak ada yang peduli
Pelangi kesepian, menelusuri malam tanpa benderang
Bulan lari berselimut awan

Di bawah jalan layang, pelangi mencari pelita
Lampu-lampu sorot tak kuasa penuhi pinta
Hanya sekedar ingin warnai dingin malam
Hanya dengungan bisik menggelitik telinga
Malam masih panjang, sudut bias mulai pudar

Gemericik air kali keruh, sumbatkan pikiran
Ikan-ikan pun enggan berenang
Teater sudah tak sanggup terjaga
Hanya suara rangkain kereta pecahkan sayup sepi
Malam benar-benar masih panjang

Matahari dari sudut lain bisikkan pelangi
: jarakku masih ribuan inci lagi
Kaki mulai lemah tak sanggup berjalan lagi
Tulang-tulang ngilu, dimana bisa berpangku?
Sebuah harapan membelenggu
Adakah surya esok pagi?
Malam masih panjang
Dan ternyata benar adanya
: tak ada pelangi yang sanggup berpendar malam hari

Jumat, 03 Desember 2010

Mata Angin yang Patah

Tunjukan aku sebuah realita
Tak sampai paham apakah ini imaji dalam skenario
Pecah.
Dan terjebak dalam penyingkapan tutur warna-warna
Gelap, kelabu, atau warna-warna yang berpendar

Mata angin mulai ragu
Dia bilang, dunia tak seperti dulu
Mungkin guncangan tektonik merubahnya
Dan keraguan dalam penyingkapan masih ada

Tak paham maksud sutradara kehidupan
Tak mengerti akan pahatan aksara yang singgah tadi malam
Jelaskan padaku,
sebab mata angin terjebak dalam keraguan

Labirin jalan pikiran kian sesak
Setiap kali celah terbuka
Saat itulah pikiranku dipermainkan
Jalan-jalan pembuka menjelma jadi fatamorgana: ilusi
Mata angin tak kian iba: sudah buta
Atau patah arang
Kebuntuan adalah jalan mutlak
Sabana dan stepa tak pecahkan gundukan ketidakpahaman: malah jadi aral
Semak belukar dan padang rumput tak kuasa bujuk arah angin

Rabu, 01 Desember 2010

Mata-mata yang layu

Katanya, di ufuk mata ada kelenjar air
Saintis bilang agar mata tak akan tandus
Seketika mata jadi kering
Bisa jadi kelopak jarang terkatup tuk basahi
Begitu yang mereka katakan
Kelopak mulai layu
Warnanya mulai gelap
Tapi tenang duhai lebah-lebah,
esok akan berkembang
Manisnya madu tak kan sampai hilang
Haraplah hujan menari-nari yang ke sekian
Walau ganas, sambutlah
Akan ada pelangi di ujung taman bougenville.
Merah muda.

Selasa, 16 November 2010

Gelombang Asa

Lautan buku menggenang rapi di sudut hening tepian
Gelombang ejaan huruf menggila
Ganas?
Tidak.
Siapa bilang?
Terbayang genangan itu akan masa datang
Otak-otak manusia kan kendalikan gelombang itu
Lalu, buat gelombang yang baru.
Tenggelam di sana pun siapa tak suka.
Bahkan hanyut pun rela.

Periode Seratus

Tepat periode ke seratus
Potret pelangi di ujung senja
Lukis lembut lintas warna
Izinkan aku jadi pemiliknya
Sekarang dan selamanya
Pedulikah diterpa bulir deras?
Biarkan jatuh
Untuk sebuah estetika kehidupan
Peneduh hati
Lebah kan tetap di sana
Sembunyi di balik kelopak bunga
Menatap langit: pelangi
Menapak bunga: madu
Dingin mengigit tulang, ngilu
Kuyup balutan kain di tubuh
Tepat periode ke seratus
Pelangi jadi lukisan
Sebuah persembahan sang alam
Kan dinanti abad berganti kelak
(141110)

Kamis, 11 November 2010

Senja (111110)


Mentari jingga
Sapanya senja itu
Warna yang tak sempat tampak
Setidaknya sepekan terakhir
Hujan turun
Dalam sudut gelap atau kelabu
Pelangi melumat bibir senja
Pelangi bilang:
mentari esok masih cerah
Diam, merenung
Akan kah tetap istimewa?
Walau berkurang satu
Senja yang dilumat pelangi

Sebelum pelangi.
Disambanginya hujan.
Tak melulu rintik, kadang deras menerpa.
Perlukah payung?
Hah, sepertinya tidak.

Buat apa?
Hanya kan menutupi betapa menawannya pelangi.
Tak peduli walau dingin merasuk.
Menyiksa.
Tak seberapa dengan indahnya bias matahari membentur hujan: pelangi.
Buang payung itu.
Tak butuh payung, atau dipayungi.
Ingin lihat warna itu!
Tanpa payung: menyakiti mata (hati).
Bicara tentang terdahulu.
Dan masa datang.
Ditunggunya sang waktu.

Minggu, 17 Oktober 2010

Tak Menawan Laku Lalu

Gemuruh awan beriringan, awan kelabu
Sebentar lagi hujan kan turun kawan
Rintiknya yang menawan kan hiasi jendela
Gemuruh yang bertalu bersautan
Layaknya sebuah rangkaian melodi

Gusar hati ini saat kilat yang mulai mencuat
Angin berhembus bak badai
Kian deras rintik itu
Hah, sepertinya bukan rintik menawan lagi
Harap pelangi kan dijunjung sirna sudah
seperti malapetaka

Ku kira semua akan selalu indah
Menggantung harap pelangi tiap hujan turun
Namun tak selalu berujung begitu
Berbalik: hujan tak selalu menawan
Rasa kehilangan kini dirasa

Pelangi,apa pintaku membebanimu?
Menanti hujan demi harapku hadir
Aku merasa begitu
Walau angin tak sampaikan maksud
Ku lihat warna pasimu
Cerahmu hilang
Jika benar aku buatmu pasi maka lepaskan aku
Tak kan ku harap cerahmu singgah di mata
Walau sulit nanti
Aku kan mundur tuk warnamu kembali

Salahkah Aku Cemburu

Aku cemburu,
tanganmu yang menggenggam tanganku erat
juga ada kau genggam tangan yang lain

Aku cemburu,
senyummu yang warnai hari dan hatiku
juga ada kau warnai hati yang lain

Aku cemburu,
waktu yang kau berkan kepadaku,
juga pernah ada kau berikan pada yang lain

Aku cemburu,
kepalaku yang kau usap jika kau rindu
juga pernah ada kau usap kepala yang lain

Aku cemburu,
singkat malam yang pernah kau dan aku habiskan bersama,
juga pernah ada kau habiskan dengan yang lain

Aku cemburu,
salahkah aku cemburu?

Semakin ku yakin,
semakin ku ragu

Jumat, 01 Oktober 2010

Secarik Suratmu

(0111010)

Secarik kertas terselip dalam kantung hitam.
Kau sembunyikan dalam sebuah kotak coklat bertingkat.
Kotak penyimpan rahasia pribadi sederhanamu.
Perintahmu: ambil dan simpan
Tak sendiri surat itu tersembunyi.
Bersama benda hijau surat itu kau sandingkan.
Uraian bait kau rangkai begitu sempurna.
Seringai senyum dan harapan menyapa.

Tak sangka.
Menyeruak dari benak.
Di saat hari bahagia yang belum tiba
Kotak itu melesat cepat di tangan ku
Tak paham kiranya maksudmu lebih awal
Aku hanya senyum menyelami sajak-sajakmu
Bayangan masa depan mengepul otakku
Kata-katamu mengikat masa itu

Ku terima dengan bijaksana
Tak langsung ku buka bukan karena tak bahagia
Ku tunggu sang waktu tiba
Ketika aku mengenang masa 19 tahun yang lalu
Saat ibuku tersenyum kaku menyambutku yang lugu
Asal kau tahu: aku bahagia akan surat itu

Tulusmu itu yang ku tangkap
Dalam lemahmu kau perhatikan aku
Haru ku beriringan bersama suratmu
Doa, itu pintamu dariku
Suara layu buatku pilu, ingin ku sudahi perihmu
Atau ingin ku tukar posisimu dengan ku

Terima kasih,
Atas rasa sayangmu

Terima kasih,
Segala perhatianmu padaku

Terima kasih,
Atas ketulusanmu

Terima kasih,
Atas pengorbananmu

Terima kasih,
Atas kehadiranmu dalam hidupku

Doaku mengiringimu
Sehatmu, itu harapku
Semoga TUHAN dengarkan doaku
Kepulihanmu ku tunggu sayangku..

Sabtu, 25 September 2010

Ketakutanku

Maafkan aku,
Tidak tahu mengapa ku begini
Seolah tak yakin akan dunia
Jeli dan tajam ku awasi
Acuh akan pribadi  hak orang lain
Aku orang jahat?
Mungkin benar begitu


Ketakutan membentukku seperti ini
Sanggupkah aku berbagi?
Mungkin untuk perkara materi tak apa
Namun jika perkara hati, ku tak janji
Jangan rampas yang ku miliki
Ampun ya Tuhan..

Bagai anak kecil lugu
Mungkin itu yang ia pikir
Takut sang penyangga hati lari
Isak yang hadir bila terjadi
Rengek memaksa yang hilang tuk kembali

Sungguh aku serahkan pada-MU TUHAN
Sang penguasa hati manusia
Tak jarang semua pergi, namun pernah terjadi
Untuk ke sekian kali aku rela hilang
Akankah semua akan terulang?
Harapku tidak,
Izinkan ini yang pertama dan terakhir

Minggu, 12 September 2010

Sebuah Dialog Belaka

Catatan lampau mu itu sedikit mengiris hati
Entah harus bagaimana menyikapnya
Ini hal lumrah bukan?
Jangan salahkan aku atau dia, kawan..

Salahkan mereka!

Kenapa harus mereka yang disalahkan??
Apa salah mereka??

Karena mereka bukanlah aku dan dia.
Aku dan dia adalah kami.

Maaf aku bukan hakim,
aku tidak berhak menghakimi orang lain.


Dan kita tidak harus menjadi hakim,
untuk menentukan benar-salahnya.

Lalu kenapa harus menyalahkan mereka?
Bukankah itu seperti hakim??

"Seperti" berbeda dengan "menjadi"...

 Menjadi seperti hakim.
Aku tidak mau menjadi seperti hakim.
Akan saling menyakiti nantinya..

Maka jadilah seperti terdakwa.

Terdakwa yang disakiti hakim?
Mengapa?
Mengapa harus ada yang tersakiti?

Karena memang selalu ada yang dikorbankan.
Sebuah fitrah, sebuah sunnatulloh.

Jika aku harus menjadi seperti terdakwa,
maka orang patut dipersalahkan dari yang dimaksud dalam tulisan ini jadi adalah aku sendiri?
Malangnya diriku..
Lantas apa yang harus aku lakukan?


Bersabar, beristighfar, berjuang.
Semoga Allah memberikan kemudahan :)


Amin...
Terima kasih..
Sudah lebih tenang sekarang.. :)

September 12nd, 2010

Harapku

Apa ini rencana MU?
Entah harus marah, kecewa, atau menerima
Siapa dia, Tuhan?
Benarkah dia KAU persiapkan untukku?
Bagaimana kalau tidak??

Tuhan,
Aku telah mengukir harapan bersamanya
Kesungguhan justru membuatku ragu
Semakin besar kecocokan kami
Tapi semakin besar perbedaan dari kami
Jika dia bukan untukku,
Mengapa KAU pertemukan aku dengannya

Tuhan,

KAU bilang perbedaan itu lumrah
Tapi mengapa keadaan seolah membunuhku
Ini yang pertama ya Tuhan..
Ku ingin ini yang terakhir kalinya
Ku ingin KAU ridhoi kami untuk tetap bersama-MU
Izinkan aku bersamanya TUHAN..
Ku mohon..

Tuhan,
Jika kami KAU takdirkan bersama
Bantu aku yakinkan dunia
Bahwa dia memang KAU persiapkan untukku nanti..
Dan selamanya..
Ku mohon..

Apa Ini Mauku?

Angin mulai menderu-deru pipiku
Cahaya lampu menyilaukan pandanganku yang kosong ini
Aku termenung,
tepat di ujung jendela mobil itu
Lelah memang..
Tapi semua seolah tak ada jalan lain

Ini lah hidup yang ku pilih saat ini
Aku mulai jenuh dan bosan
Ribuan kerikil itu menyerbu benakku yang mulai rapuh
Tak berisi
Tak kokoh

Mata seolah terkatup menahan kerikil ini
Aku tak tahu adakah yang akan menopangku
Menyeka kerikil itu dari benakku
Otakku kini rapuh bagai remah-remah
Mungkin tak akan ada satu pun yang bisa
Karena memang terlalu usang

Angin semakin berhembus kencang
Menerbangkan angan ku

Yang ku lihat kini
Semua seolah tersenyum meledekku
Mungkin mereka tahu betapa bodohnya aku saat ini
Aku yang tak tahu harus menempatkan dimana diriku berada

Aku kesal
Sungguh kesal, dan mulai muak
Muak akan kebodohan ku
Dan betapa bodohnya lagi jika aku hanya diam

Aku tidak mau mati sia-sia tanpa karya
Aku juga tak mau mereka tahu atas ketidaktahuanku
Aku tidak mau membuang-buang sisa hidupku percuma

Tapi mengapa semua begitu terasa berat dijinjing?
Nafasku tersengal-sengal
Sungguh, aku ingin lari dari kehidupan yang sungguh tak pasti ini
Seperti menggantungkan harapan palsu

Aku hanya diam??
Aku tidak mau!!
Tapi kakiku tak sanggup menopangnya sendiri
Ada apa ini?
Tuhan,
Selemah itu kah aku??
Yang hanya bisa terbang kemana angin membawaku..
Aku sedih
Tuhan tolong  aku....

Aku??

Aku seperti menemukan identitas baru ku
Aku tak tahu mengapa orang berpikir aku begitu
Aku ingin aku yang dulu
Dengan sedikit ramuan baru
Mungkin ini semua ku pelajari dari mu
Sebuah puisi yang pandai menderu
Puisi ini tertuju padamu
Yang tak pernah ku tahu sejak kapan aku menyukai sajak-sajakmu..

Jumat, 10 September 2010

Sekarang Aku Percaya

Sekarang Aku Percaya

Dulu aku tidak percaya mereka..
Mereka yang bicara tentang indahnya masa remaja
Bicara tentang arti sebuah sejarah SMA
Bicara tentang dalamnya persahabatan

Dulu aku tidak percaya mereka..
Mereka yang bicara tentang menggantung mimpi
Bicara tentang menyusun setumpuk galeri
Bicara tentang mengikat ratusan naluri

Dulu aku tidak percaya mereka..
Mereka yang bicara tentang guru-guru yang tangguh
Bicara tentang aura bangunan yang kukuh
Bicara tentang semangat yang bergemuruh

Dulu aku tidak percaya mereka..
Mereka yang bicara tentang rekaman jutaan memori
Bicara tentang mengupas ribuan misteri
Bicara tentang merangkai cinta nan berseri

Dulu aku tidak percaya mereka..
Mereka yang bicara tentang ketakutan
Bicara tentang kesedihan akan kehilangan
Bicara tentang menyiasati sebuah kerinduan

Dulu aku tidak percaya..
Mereka yang bicara tentang manisnya gelombang asa
Bicara tentang kuatnya kaki menapaki pelangi cita-cita
Bicara tentang sejuknya embun air mata bahagia

Sekarang aku percaya..
Percaya indahnya rajutan masa remaja
Percaya akan guru-guru yang berjiwa muda nan bersahaja
Percaya akan ikatan naluri yang sudah terjaga
Percaya akan misteri yang menyulut kerinduan
Percaya akan mereka yang berkata-kata


'61-SHS'
Jakarta, 21 Juni 2010
01.45

Mahalnya Kenangan Itu

Aku terkenang gerbang itu..
Gerbang jalan menapaki meraba mimpi
Menerawang asa tak pasti
Menggantung harapan di hati

Aku terkenang ruang itu..
Ruang yang selalu ku jamah penuh misteri
Menimbun sisa isak tangis
Mengoyak duka hati

Aku terkenang jendela itu..
Jendela tempatku mengintai masa depan
Menyembunyikan keegoisan cinta
Menebar duka lara

Aku terkenang lorong itu..
Lorong perantara alunan bahagia
Menunggu kepastian secercah pelita
Merajut rahasia sederhana

Aku terkenang semangat itu..
Semangat penyulut amanat
Merangkul duka sahabat
Meracik ramuan mujarab

Semua tinggal kenangan
Kenangan yang kini sulit untuk diraba
Bagai sebuah goresan sketsa
Hanya terka yang tersisa

Dengan masa yang singkat
Kami beranjak setingkat
Meraih mimpi yang tergenggam erat
Membayar mahalnya asa yang sempat tergurat

Berjuanglah sahabat
Jangan biarkan harapan itu tersayat
Dobrak segala penghambat
Senyum bahagia itu yang ingin kami lihat

ROTATION - ARVORESCENT
Jakarta, June 13, 2010

Bagai Dua Sisi Sebuah Koin yang Bertolak Belakang

Siapa aku??
Aku selalu berucap,
..Aku adalah aku
Bukan yang lain
Biarkan aku menjalani hidup dengan caraku sendiri
Aku tak peduli apapun yang terjadi
Sekali pun debu itu merasuk ke ubun-ubunku..
Tapi, apa yang terjadi..
Sosokku seolah berubah
Bagai bunglon memang
Jujur, ini sulit bagiku..

Aneh..
Bagai dua sisi sebuah koin yang bertolak belakang
Semua begitu cepat berubah
Sangat cepat sekali
Mungkin aku berbeda aku bersama kau, atau kau, atau bahkan kau
Jujur aku tak suka dengan diriku yang sekarang ini
Bahkan aku bisa menangis sekencang-kencang
Aku tak sanggup melihat diriku sendiri
Semua seolah menjauh dariku
Mereka banyak yang tak nyaman akan kehadiranku
Haruskah aku menghilang dari dunia ini
Tak ada yang peduli pada ku
Benar-benar tak ada yang peduli

Heeiii.. Aku juga seperti kalian
Aku sedang mencari jati diriku
Bukan itu yang ku harapkan
Juga bukan ini..

Suara itu...

Suara itu muncul begitu tiba..
Saat aku menelusuri jalan padat ini
Aku tak tahu dari mana asalnya
Suara itu seperti pernah ku dengar sebelumnya
Bukan pekikan knalpot roda roda dua
Juga bukan suara klakson bersautan
Suara itu benar-benar membuatku merasa seluruh tubuh ini lemah
Bukan karena kesibukanku hari ini
Juga bukan karena kerak-kerak syaraf yang semakin mengering

Ku telusuri zona sekitar ku
Tak satu pun menyapa
Walau suara itu tak sering muncul lagi
Suara itu benar-benar membuat seluruh tubuhku terkulai
Aku tak mau dipermainkan oleh suara itu
Ku tunggu suara itu lagi
Namun, ia kian enggan muncul

Krrcuk Krrcuk
Seperti itulah analogi suara itu
Ku telisik suara itu
Ternyata..
Sumber dari suara itu adalah perutku
Suara itu seolah tanda bahwa perutku perlu diisi..


Hhahaha.. Garing yak? Siapa suruh Anda baca?

Beranda Saat Petang

Aku tak bisa lagi melihat sinar sang surya di berandaku
Ragaku tak menyatu lagi saat petang tiba
Hati ini kini penuh dengan angan dan harapan tak pasti
Pikiran ini seolah berisi onggokan masalah duniawi
Mata ini sayup-sayup terkulai lelah
Hanya pada rembulan lah kini ragaku bersapa
Terkadang bintang muncul penyanjung senyum

Wahai sang surya izinkan aku ini bertegur sapa denganmu
Saling membuka hati di saat petang tiba
Saling melepas penat di beranda
Sungguh aku rindukan petang itu kembali datang
Ketika kotoran-kotoran perusak syaraf ini rontok tidak perlahan di atas beranda

Hangatnya sudah tak bisa ku rasakan
Hanya angin malam yang dingin merasuk ke tulang-tulangku
Tak pernah lagi ku lihat cahayamu menembus berandaku
Hanya sorot-sorot lampu jalan yang tajam yang membuat mataku terbelalak

Ku korbankan kerinduan ini
Ku lalui masamu tidak di berandaku
Kaki ini memang seolah melekat erat untuk menemuimu
Walau habis kesabaran dan air mata mendera
Ku hardik mata ini agar tetap menilik siku tajam tersebut
Demi esensialisme, ku pertaruhkan semuanya
Walau habis masa petangku tanpa beranda itu

Indahnya Bintang Malam Hari

Suara-suara itu masih ku dengar
Suara bising mereka yang masih terbelalak matanya
Mungkin karena malam ini hari Sabtu
Dan aku pun begitu
Mataku masih terbelalak lebar
Tak akan ku sia-siakan suasana hening ini
Suasana yang jarang ku dapat di ibu kota

Jari ku terus saja menjamah huruf-huruf itu
Huruf demi huruf ku eja perlahan
Membentuk kata demi kata
Tak peduli suasana bising mereka yang jelas mengganggu
Ku hapus perlahan lalu ku tulis sekejap
Ku hapus lagi perlahan kemudian ku tulis lagi sekejap

Aku mencoba memilahnya
Memilah rangkaian memori yang terekam dulu
Agar menjadi sesuatu yang sangat bermakna nantinya

Jariku terhenti sejenak
Keraguan mulai merasuk sela-sela jariku
Hentikan atau lanjutkan?
Lanjutkan atau hentikan?
Aku takut ini akan sia-sia
Tak berarti apa-apa

Tidaakk..
Ini bukan diriku sebenarnya
Aku bukan orang yang menyerah pada keadaan
Ku ayunkan lagi jemariku gemulai
Ku hapus perlahan ku tulis sekejap
Ku hapus lagi lalu ku tulis lagi sekejap
Hingga mataku mulai terpejam
Dan ditemani bintang malam hari

Memancing Lagi

Berat
Di saat kondisi seperti ini
Tak ada seorang pun yang mengerti
Bahwa aku perlu dipapah
Langkahku benar-benar berat
Hatiku gundah
Ingin menangis
Benar-benar tidak ada yang mengerti

Sekelilingku justru mengejekku
Bukan ini yang ku inginkan
Aku mencoba menabur asa dan harapan
Agar kebaikan yang akan ku tuai nantinya
Tapi tak akan mungkin rasanya
Aku belum melihat tanda-tanda kebaikan itu
Aku seperti ingin berlari lagi ke belakang
Bahkan berseluncur

Jalan putih yang ku anggap baik tadinya
Justru membawa ku dalam keraguan
Ragu untuk terus tetap bertahan di jalan ini
Kerikil-kerikil itu membesar
Aku sudah tidak bisa menyeka kerikil itu perlahan
Haruskah ku gunakan tongkatku yang sudah mulai rapuh ini?

Aku benar-benar sudah letih
Langkah ku terhenti
Ku biarkan nafasku tersengal-sengal
Keringat membasahi asa dan harapanku
Dan air mata menetes di pipiku

Aku tak tahu harus berbuat apa
Aku hanya berdoa pada-NYA
Agar DIA menjaga langkahku
Langkah yang sedang terhenti ini

Aku tidak tahu kapan aku melangkahkan kaki ku lagi
Nafasku masih tersengal-sengal
Keringat masih mengucur deras
Air mata tak henti menetes

Angin menyeka air mata ku
Seolah berkata, 'lanjutkan langkah mu!'
Aku ragu
Kaki ku tak ingin berdiri rasanya
Hah, benar-benar tak ingin masih disini

Hujan

Tik.. Tik.. Tik...
Awalnya suara itu yang muncul dari langit-langit rumah. Ku tengok sebentar. Jutaan pasukan kecil air datang dari langit. Membasahi seluruh benda yang ditemuinya. Namun, pasukan kecil itu hanya mampu membasahi setitik demi setitik. Hanya sedikit perubahan yang berarti.

Ssrrrhh.. Seolah marah akan sebutan pasukan kecil air, ia menambah quotanya berlipat-lipat. Tak peduli dengan keadaan yang terus mencercanya, ia basahi semuanya tanpa sisa.

Glegrrr.. Amarahnya memuncak. Ratusan kilat dan petir bersautan. Pasukan air yang makin membesar mulai marah akan cercaan-cercaan yang dilontarkan manusia-manusia hina itu. Manusia-manusia yang selaluu saja menyalahkannya sebagai bala bencana yang timbul. Tak sadarkah manusia-manusia hina itu akan puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan rahmat ALLAH yang dipapahnya dari langit yang sungguh tinggi tersebut. Manusia-manusia itu menyebutnya bencana. Aku baru sadar setiap tetes air itu harus memapah rahmat ALLAH dari langit. Rasanya aku ingin berteriak. Hheeeiii manusia-manusia, tidakkah kau lihat rahmat-rahmat yang dibawanya dari langit? Tak sepantasnya kau main hakim sendiri mengatakan perantara Rahmat ALLAH ini bencana! Tak sepantasnya!

Tak tahu kah kau beban yang dipanggul oleh jutaan rahmat ALLAH ini? Kasihan! Kasihan wahai manusia-manusia hina!

Dengarkanlah teriakan-teriakan marah hujan ini! 'Hai manusia-manusia.. Aku ini sudah lelah! Aku harus menopang jutaan rahmat ALLAH untuk kalian, namun tak sedikit pun aku mengeluh. Tapi mengapa kau seolah-olah mengelakkan kehadiranku? Aku ingin sekali ketika aku menapakkan kaki di bumi, aku melihat alam yang indah seperti ratusan tahun lalu. Aku ingin beristirahat, mengalirkan tubuhku sambil bersenda gurau dengan ikan-ikan dan burung'.

'Tapi. Apa yang ku lihat sekarang. Menapakkan kaki saja rasanya aku ragu. Tak seperti dulu. Aku hanya bisa tergenang tak mengalir di sini sampai aku mengeruh tak ada arti. Ikan-ikan dan burung-burung enggan mendekatiku. Aku malu. Tapi manusia-manusia itu tetap menyalahkan kami!'.

Miris. Mendengar tangisan hujan yang tersedu-sedu melihat tingkah kami yang katanya adalah makhluk berakal. Diantara kami masih ada yang belum sadar akan arti kehadiran gemercik air itu.

Seharusnya kami sadar. Tak akan hilang awan hitam itu sebelum hujan turun. Tak akan cantik bunga itu sebelum hujan turun. Tak akan terlihat indahnya pelangi sebelum hujan turun. Tak akan mengalir sungai-sungai lagi-lagi sebelum hujan turun. Tak banyak keinginan pasukan air itu. Mereka hanya ingin menyampaikan rahmat Allah yang dititipkan padanya tanpa cercaan-cercaan yang dilontarkan untuknya. Dan mereka ingin bermain-main dengan ikan-ikan dan burung-burung lagi.

Memancing

Memang tak ada hubungan antara judul catatan ini dengan maksud isi yang tersurat maupun tersirat dalam tulisan ini. Hahaha.. Apalah arti sebuah nama maupun judul. Toh, semuanya tidak akan merubah keadaan.

Situasi ini sudah mulai dirasakan sejak awal Agustus lalu. Situasi di mana aku harus meninggalkan kehidupanku tiga tahun belakangan dan memulainya dari titik nol. Sebagai penghuni baru mungkin terlalu sulit meniti jalan itu langkah demi langkah. Jalan itu semakin terjal ketika aku harus berpikir apakah ini jalanku. Apakah ini keinginanku? Apakah ini takdirku? Atau apakah ini malapetaka bagiku? Hal itu lah yang menjadi beban pikiranku bahkan sampai detik ini. Pertanyaan-pertanyaan itu selaluuu menghantui pikiran dan benakku. Bahkan terlintas dibenakku untuk melarikan diri dari semua ini. Hah, tapi buat apa? Apakah keputusan ini akan memberikan solusi yang baik bagiku nantinya? Tidaakk.. Hentikan semua pikiran negatif ini!

Hari demi hari titian jalan itu ku jajaki. Kerikil-kerikil penyangga jalan ku seka perlahan-lahan. Berat memang. Harus merubah semua kebiasaanku? Memang teramat sulit. Apakah semua penghuni baru disini merasakan hal serupa? Atau hanya aku saja? Hahaha.. Lucu memang jika terus memikirkan hal tidak penting ini.

Sekarang aku mulai belajar di sini. Belajar meniti jalan terjal dengan tongkat-tongkat sebagai tumpuan menjajaki jalan ini. Aku belajar untuk menjaga tongkat tersebut agar tidak patah di setiap tikungan-tikungan di jalan itu.

Aku menoleh ke belakang. Baru beberapa jengkal jalan yang ku jajaki. Tetapi mengapa terasa begitu melelahkan? Nafas mulai tersengal-sengal. Keringat sudah mulai membahasahi asa dan harapan. Haruskah aku kembali mundur di jalan yang baru ku jajaki beberapa jengkal ini sebelum semuanya terlambat? Dan memulai dari titik start yang lain? Huh, memang benar-benar menjadi tanda tanya besar. Tapi inilah hidup. Tak ada yang pasti. Dan tak ada yang tidak mungkin. Akan kah aku mendapatkan asa dan harapan baru di titik start di ujung sana yang belum tentu bisa aku jangkau? Yasudah lah, aku harus bertahan. Meski berat.

Aku bukan pujangga yang dengan mudahnya mengungkapkan isi hatinya dengan goresan-goresan kata-kata indah yang dapat menyejukkan hati para penikmatnya. Ya, aku hanyalah seorang wanita yang sedang mencari arti hidup yang sebenarnya di jalan ini. Ya, memang terkesan plin-plan dalam menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan konyol itu. Tapi ingat, aku bukan wanita rapuh. Wanita yang menyerah begitu saja dengan keadaan. Keadaan yang kian seolah menjebakku. Hati yang lain berkata, 'ingatlah ini bukan jebakan! Sependek itukah kau menilai semua itu?'. Sisi lain terus meragukan kebenaran tersebut. Tidaak.. Apa-apaan ini. Pikiran-pikiran buruk itu menghentikan langkahku sejenak. Tik..tak..tik..tak.. Aku berpikir sejenak. Yap. Sudah cukup. Aku harus melanjutkan langkah lemahku. Jalan yang penuh jalan berliku, yang mungkin akan memuncul keraguanku nantinya. Hahah, itu urusan nanti. ALLAH akan membimbingku.

Aku jajal sisi lain dari jalan ini. Ada sedikit perbedaan. Jalan ini mempermudah jalanku. Aku melihat sisi putih dari jalan ini. Yang seakan menegakkan asa dan harapanku. Di jalan inilah seolah impianku mulai terajut rapi meski baru seujung kuku. Memang terlalu singkat mengartikan tanda itu. Terlalu singkat. Tetapi tanda yang cukup singkat ini cukup menyejukkan asa dan harapan yang mulai terajut. Senyum di bibir ini mulai merekah, seindah bunga-bunga yang menghiasi jalan ini. Tapi aku takut jika sisi putih itu memudar menjadi abu-abu atau bahkan kemudian menghitam. Atau aku harus kembali berlari mundur ke belakang. Tidak. Aku tidak boleh menyia-nyiakan rajutan asa yang baru seujung kuku itu. Ini mungkin langkah awal menuju impianku.

Pelangi-pelangi kadang menghiasi jalan terjal itu. Tapi tak jarang awan hitam menutupi pelangi harapan itu. Huh, rasanya aku ingin terbang saja menghindari awan hitam tersebut untuk melihat indahnya pelangi harapan itu. Tapi rasanya mustahil. Bagaimana pun aku harus menunggu awan hitam itu yang pergi terbawa angin-angin harapan, bukan lari darinya. Itu semuanya tidak akan meluruskan tikungan jalan yang ku anggap terjal tadinya. Harapan itu masih ada. Ya.. Walaupun aku harus mundur berseluncur dan semakin berat rasa itu untuk mengulangnya dari awal. Aku harus percaya bahwa ini pasti jalan yang diberikan ALLAH, Sang PENGENDALI semuanya. Untuk meraih ujung jalan itu.

Tulisan ini hanya lah ungkapan sang penulis bagi pembacanya yang sedang bimbang.
Selamat menikmati!

Empty

Empty

Minggu, 29 Agustus 2010

Waktu 'Kan Menunggu

Diri ini belum dewasa benar untuk berbicara suatu waktu
Masa ketika sang Tuhan memenuhi mimpi untuk hidup di satu tempat yang sama
Tempat di mana hati ini akan dijaga oleh sang rasa
Duka dan bahagia menjadi babak kehidupan dalam sketsa

Bahumu nanti akan ku jadikan penyangga duka
Telingaku nanti akan kau jadikan pelepas gelisah
Tanganmu nanti akan ku jadikan penopang bahagia
Suaraku nanti kan kau jadikan pelipur lara

Diri ini belum dewasa benar untuk merangkai asa
Harapan dan doa memaksa untuk disapa
Untuk sebuah bahagia yang kan diraba dan dijaga
Bertaruh dalam doa agar sampailah cita-cita

Diri ini belum dewasa benar untuk melintasi batas waktu
Namun ku yakin dalam teguh
Suatu saat dua hati kan bersatu
Sang waktu pun tak sabar menunggu

Jumat, 27 Agustus 2010

Ragu Itu Kini Beku

Entah apa yang merasuk pikiranku waktu itu
Berkata-kata seolah ku ragu dengan suatu ikatan utuh
Tak ada maksud hatiku menyayat hatimu hingga rapuh
Berulang kau yakinkah aku tiada jenuh

Maafkan aku yang membuatmu galau
Aku tak ingin rajut dan sulam senyum kita kacau
Aku masih ingin mendengar senandung kita berkicau
Walau nantinya akan ada suatu babak bak suara sengau

Minggu, 22 Agustus 2010

Semua Akan Indah pada Waktunya

Tak ada yang membuat wanita bahagia kecuali sebuah kepastian apa yang dinamakan cinta
Cita-cita untuk menata sebuah armada bahagia bersama sang nahkoda
Walau semua hanya baru terlihat bagai bayangan fana
Semua akan indah pada waktunya

Ternyata benar orang tua dulu berkata
Seorang wanita lebih baik bersama pria mencintainya daripada yang ia cinta
Aku tanamkan kata itu dalam jiwa
Namun Tuhan Maha Sempurna
Ia ada pria yang ku cintai dan mencintai

Begitu dahsyat rahmat cinta-Nya
Kini angin membawaku terbang bagai burung di sana
Mungkin ia adalah nahkoda kapalku nanti
Yang akan membawa aku dan sang generasi pada armada bahagia

Aku akan menunggunya seperti yang ia minta
Walau butuh sebuah kerelativan waktu yang tak tentu arah
Aku tahu ini adalah cita dan cinta yang ia janjikan
Karena semua benar-benar indah pada waktunya

Pertemuan Dua Hati

Malam kini telah menjadi saksi
Pertemuan dua hati dengan seuntai janji
Sempat ragu menggoyahkan hati
Namun katamu yang selalu meyakini

Tuhan, aku memohon pada-Mu
Lindungilah hati yang telah Kau ramu
Bukannya aku ragu akan fitrah dari-Mu
Tapi ku takut akan luka yang tertuju

Tangisan malam itu sungguh tulus
Dimana ia menyusun paradigma agar lurus
Jika bahagia hati memang harus tergerus
Biarkan aku yang terakhir ia buat kurus

Rabu, 18 Agustus 2010

Batu Karang


Senyumku terajut ketika melihat betapa kokohnya batu karang yang diterpa ombak itu

Pernah aku bermimpi menjadi sesosok batu karang di sana

Berdiri kokoh walau jutaan ombak menerjang. 

Memang benar semakin besar batu karang di sana semakin kencang deburan ombak menyapa

Kini aku terasa benar-benar menjelma seperti batu karang itu

Sempat ku tak percaya, 

namun kau menyadarkanku dari anganku bahwa semua ini nyata adanya.

Aku Menyebutnya Anugrah


Ketika dua pasang mata bertegur sapa
Tak ada yang menyangka begini jadinya
Waktu seolah mengatur sebuah naskah
Para pemainnya terjebak dalam rasa
Jiwa dan raga seolah tak bersahaja

Waktu itu aku kira ini semua rekayasa
Sebuah goresan sketsa anak manusia
Tak ada rasa yang terukir mempesona
Semua mengalir begitu saja
Tanpa tahu siapa yang mengatur semua

Dulu sajak-sajak begitu asing menyapa
Hanya gurauan belaka yang tiada guna
Senyum lugu hanya sebagai penyangga
Tak jarang guratan tawa mengisi celah
Ya, mungkin aku belum tahu nilai dari sebuah rasa

Kini semuanya berbeda dalam sekejap
Entah bagaimana sajak-sajak menatap
Hingga aku benar-benar diam terhenyak
Merangkai ribuan terka dalam  benak
Bahkan ketika aku jatuh dalam lelap

-LRSSHD-