Memang tak ada hubungan antara judul catatan ini dengan maksud isi yang tersurat maupun tersirat dalam tulisan ini. Hahaha.. Apalah arti sebuah nama maupun judul. Toh, semuanya tidak akan merubah keadaan.
Situasi ini sudah mulai dirasakan sejak awal Agustus lalu. Situasi di mana aku harus meninggalkan kehidupanku tiga tahun belakangan dan memulainya dari titik nol. Sebagai penghuni baru mungkin terlalu sulit meniti jalan itu langkah demi langkah. Jalan itu semakin terjal ketika aku harus berpikir apakah ini jalanku. Apakah ini keinginanku? Apakah ini takdirku? Atau apakah ini malapetaka bagiku? Hal itu lah yang menjadi beban pikiranku bahkan sampai detik ini. Pertanyaan-pertanyaan itu selaluuu menghantui pikiran dan benakku. Bahkan terlintas dibenakku untuk melarikan diri dari semua ini. Hah, tapi buat apa? Apakah keputusan ini akan memberikan solusi yang baik bagiku nantinya? Tidaakk.. Hentikan semua pikiran negatif ini!
Hari demi hari titian jalan itu ku jajaki. Kerikil-kerikil penyangga jalan ku seka perlahan-lahan. Berat memang. Harus merubah semua kebiasaanku? Memang teramat sulit. Apakah semua penghuni baru disini merasakan hal serupa? Atau hanya aku saja? Hahaha.. Lucu memang jika terus memikirkan hal tidak penting ini.
Sekarang aku mulai belajar di sini. Belajar meniti jalan terjal dengan tongkat-tongkat sebagai tumpuan menjajaki jalan ini. Aku belajar untuk menjaga tongkat tersebut agar tidak patah di setiap tikungan-tikungan di jalan itu.
Aku menoleh ke belakang. Baru beberapa jengkal jalan yang ku jajaki. Tetapi mengapa terasa begitu melelahkan? Nafas mulai tersengal-sengal. Keringat sudah mulai membahasahi asa dan harapan. Haruskah aku kembali mundur di jalan yang baru ku jajaki beberapa jengkal ini sebelum semuanya terlambat? Dan memulai dari titik start yang lain? Huh, memang benar-benar menjadi tanda tanya besar. Tapi inilah hidup. Tak ada yang pasti. Dan tak ada yang tidak mungkin. Akan kah aku mendapatkan asa dan harapan baru di titik start di ujung sana yang belum tentu bisa aku jangkau? Yasudah lah, aku harus bertahan. Meski berat.
Aku bukan pujangga yang dengan mudahnya mengungkapkan isi hatinya dengan goresan-goresan kata-kata indah yang dapat menyejukkan hati para penikmatnya. Ya, aku hanyalah seorang wanita yang sedang mencari arti hidup yang sebenarnya di jalan ini. Ya, memang terkesan plin-plan dalam menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan konyol itu. Tapi ingat, aku bukan wanita rapuh. Wanita yang menyerah begitu saja dengan keadaan. Keadaan yang kian seolah menjebakku. Hati yang lain berkata, 'ingatlah ini bukan jebakan! Sependek itukah kau menilai semua itu?'. Sisi lain terus meragukan kebenaran tersebut. Tidaak.. Apa-apaan ini. Pikiran-pikiran buruk itu menghentikan langkahku sejenak. Tik..tak..tik..tak.. Aku berpikir sejenak. Yap. Sudah cukup. Aku harus melanjutkan langkah lemahku. Jalan yang penuh jalan berliku, yang mungkin akan memuncul keraguanku nantinya. Hahah, itu urusan nanti. ALLAH akan membimbingku.
Aku jajal sisi lain dari jalan ini. Ada sedikit perbedaan. Jalan ini mempermudah jalanku. Aku melihat sisi putih dari jalan ini. Yang seakan menegakkan asa dan harapanku. Di jalan inilah seolah impianku mulai terajut rapi meski baru seujung kuku. Memang terlalu singkat mengartikan tanda itu. Terlalu singkat. Tetapi tanda yang cukup singkat ini cukup menyejukkan asa dan harapan yang mulai terajut. Senyum di bibir ini mulai merekah, seindah bunga-bunga yang menghiasi jalan ini. Tapi aku takut jika sisi putih itu memudar menjadi abu-abu atau bahkan kemudian menghitam. Atau aku harus kembali berlari mundur ke belakang. Tidak. Aku tidak boleh menyia-nyiakan rajutan asa yang baru seujung kuku itu. Ini mungkin langkah awal menuju impianku.
Pelangi-pelangi kadang menghiasi jalan terjal itu. Tapi tak jarang awan hitam menutupi pelangi harapan itu. Huh, rasanya aku ingin terbang saja menghindari awan hitam tersebut untuk melihat indahnya pelangi harapan itu. Tapi rasanya mustahil. Bagaimana pun aku harus menunggu awan hitam itu yang pergi terbawa angin-angin harapan, bukan lari darinya. Itu semuanya tidak akan meluruskan tikungan jalan yang ku anggap terjal tadinya. Harapan itu masih ada. Ya.. Walaupun aku harus mundur berseluncur dan semakin berat rasa itu untuk mengulangnya dari awal. Aku harus percaya bahwa ini pasti jalan yang diberikan ALLAH, Sang PENGENDALI semuanya. Untuk meraih ujung jalan itu.
Tulisan ini hanya lah ungkapan sang penulis bagi pembacanya yang sedang bimbang.
Selamat menikmati!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar