Secarik kertas terselip dalam kantung hitam.
Kau sembunyikan dalam sebuah kotak coklat bertingkat.
Kotak penyimpan rahasia pribadi sederhanamu.
Perintahmu: ambil dan simpan
Tak sendiri surat itu tersembunyi.
Bersama benda hijau surat itu kau sandingkan.
Uraian bait kau rangkai begitu sempurna.
Seringai senyum dan harapan menyapa.
Tak sangka.
Menyeruak dari benak.
Di saat hari bahagia yang belum tiba
Kotak itu melesat cepat di tangan ku
Tak paham kiranya maksudmu lebih awal
Aku hanya senyum menyelami sajak-sajakmu
Bayangan masa depan mengepul otakku
Kata-katamu mengikat masa itu
Ku terima dengan bijaksana
Tak langsung ku buka bukan karena tak bahagia
Ku tunggu sang waktu tiba
Ketika aku mengenang masa 19 tahun yang lalu
Saat ibuku tersenyum kaku menyambutku yang lugu
Asal kau tahu: aku bahagia akan surat itu
Tulusmu itu yang ku tangkap
Dalam lemahmu kau perhatikan aku
Haru ku beriringan bersama suratmu
Doa, itu pintamu dariku
Suara layu buatku pilu, ingin ku sudahi perihmu
Atau ingin ku tukar posisimu dengan ku
Terima kasih,
Atas rasa sayangmu
Terima kasih,
Segala perhatianmu padaku
Terima kasih,
Atas ketulusanmu
Terima kasih,
Atas pengorbananmu
Terima kasih,
Atas kehadiranmu dalam hidupku
Doaku mengiringimu
Sehatmu, itu harapku
Semoga TUHAN dengarkan doaku
Kepulihanmu ku tunggu sayangku..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar