Jumat, 10 September 2010

Hujan

Tik.. Tik.. Tik...
Awalnya suara itu yang muncul dari langit-langit rumah. Ku tengok sebentar. Jutaan pasukan kecil air datang dari langit. Membasahi seluruh benda yang ditemuinya. Namun, pasukan kecil itu hanya mampu membasahi setitik demi setitik. Hanya sedikit perubahan yang berarti.

Ssrrrhh.. Seolah marah akan sebutan pasukan kecil air, ia menambah quotanya berlipat-lipat. Tak peduli dengan keadaan yang terus mencercanya, ia basahi semuanya tanpa sisa.

Glegrrr.. Amarahnya memuncak. Ratusan kilat dan petir bersautan. Pasukan air yang makin membesar mulai marah akan cercaan-cercaan yang dilontarkan manusia-manusia hina itu. Manusia-manusia yang selaluu saja menyalahkannya sebagai bala bencana yang timbul. Tak sadarkah manusia-manusia hina itu akan puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan rahmat ALLAH yang dipapahnya dari langit yang sungguh tinggi tersebut. Manusia-manusia itu menyebutnya bencana. Aku baru sadar setiap tetes air itu harus memapah rahmat ALLAH dari langit. Rasanya aku ingin berteriak. Hheeeiii manusia-manusia, tidakkah kau lihat rahmat-rahmat yang dibawanya dari langit? Tak sepantasnya kau main hakim sendiri mengatakan perantara Rahmat ALLAH ini bencana! Tak sepantasnya!

Tak tahu kah kau beban yang dipanggul oleh jutaan rahmat ALLAH ini? Kasihan! Kasihan wahai manusia-manusia hina!

Dengarkanlah teriakan-teriakan marah hujan ini! 'Hai manusia-manusia.. Aku ini sudah lelah! Aku harus menopang jutaan rahmat ALLAH untuk kalian, namun tak sedikit pun aku mengeluh. Tapi mengapa kau seolah-olah mengelakkan kehadiranku? Aku ingin sekali ketika aku menapakkan kaki di bumi, aku melihat alam yang indah seperti ratusan tahun lalu. Aku ingin beristirahat, mengalirkan tubuhku sambil bersenda gurau dengan ikan-ikan dan burung'.

'Tapi. Apa yang ku lihat sekarang. Menapakkan kaki saja rasanya aku ragu. Tak seperti dulu. Aku hanya bisa tergenang tak mengalir di sini sampai aku mengeruh tak ada arti. Ikan-ikan dan burung-burung enggan mendekatiku. Aku malu. Tapi manusia-manusia itu tetap menyalahkan kami!'.

Miris. Mendengar tangisan hujan yang tersedu-sedu melihat tingkah kami yang katanya adalah makhluk berakal. Diantara kami masih ada yang belum sadar akan arti kehadiran gemercik air itu.

Seharusnya kami sadar. Tak akan hilang awan hitam itu sebelum hujan turun. Tak akan cantik bunga itu sebelum hujan turun. Tak akan terlihat indahnya pelangi sebelum hujan turun. Tak akan mengalir sungai-sungai lagi-lagi sebelum hujan turun. Tak banyak keinginan pasukan air itu. Mereka hanya ingin menyampaikan rahmat Allah yang dititipkan padanya tanpa cercaan-cercaan yang dilontarkan untuknya. Dan mereka ingin bermain-main dengan ikan-ikan dan burung-burung lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar