Jumat, 10 September 2010

Beranda Saat Petang

Aku tak bisa lagi melihat sinar sang surya di berandaku
Ragaku tak menyatu lagi saat petang tiba
Hati ini kini penuh dengan angan dan harapan tak pasti
Pikiran ini seolah berisi onggokan masalah duniawi
Mata ini sayup-sayup terkulai lelah
Hanya pada rembulan lah kini ragaku bersapa
Terkadang bintang muncul penyanjung senyum

Wahai sang surya izinkan aku ini bertegur sapa denganmu
Saling membuka hati di saat petang tiba
Saling melepas penat di beranda
Sungguh aku rindukan petang itu kembali datang
Ketika kotoran-kotoran perusak syaraf ini rontok tidak perlahan di atas beranda

Hangatnya sudah tak bisa ku rasakan
Hanya angin malam yang dingin merasuk ke tulang-tulangku
Tak pernah lagi ku lihat cahayamu menembus berandaku
Hanya sorot-sorot lampu jalan yang tajam yang membuat mataku terbelalak

Ku korbankan kerinduan ini
Ku lalui masamu tidak di berandaku
Kaki ini memang seolah melekat erat untuk menemuimu
Walau habis kesabaran dan air mata mendera
Ku hardik mata ini agar tetap menilik siku tajam tersebut
Demi esensialisme, ku pertaruhkan semuanya
Walau habis masa petangku tanpa beranda itu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar