Surya sedang tak bersahabat denganku. Lebih cepat ia lari, sembunyi di balik pekatnya awan. Lalu ia usir aku dari tempat itu. Aku angkat kaki. Ia tak peduli. Ku bungkus segala risau dalam ransel rapuhku. Setidaknya tepat untuk sajian malam ini, begitu pikirku. Dengan sedikit penyedap amarah, dan sejumput luka. Kurang rasanya tanpa sesendok kecewa. Di dalam sebuah ransel, ku dekap erat. Supaya tak tumpah.
Tetapi, sepertinya tak hanya matahari yang enggan bersahaja malam ini. Rembulan buat ku geram. Diserbunya aku dengan seuntai senyum licik. Ia permainkan aku. Aku labuhkan diri ini di sebuah jalan layang. Di bawahnya, bulan berpesta. Rayakan kemalanganku. Ia ludahi aku dengan kembang api kebahagiannya. Aku tak suka. Tapi apa daya. Rahangku sudah linu. Hanya setitik mutiara lahir di ujung pelipis. Aku menangis. Makan malam hari ini akan mengikis tubuhku yang mulai menipis.
Rawanangun-Bintara
18 Februari 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar